Mana Lebih Baik, Temenan Sama Musuh Atau Musuhan Sama Teman?

Picture 007

Tidak bisa dihindari, dalam persaingan global dewasa ini, yang namanya persaingan akan selalu melahirkan perselisihan diantara kita. Namun demikian, kita hendaknya berjiwa besar dan sedikit bijak dalam menyikapi semua itu. Dalam masyarakat kebanyakan, sudah merupakan hal yang lumrah, bagaimana mudahnya kita memusuhi seseorang hingga berujung pada permusuhan yang berkepanjangan. Begitu juga sebaliknya, seseorang akan begitu saja melupakan permusuhannya begitu memiliki suatu kepentingan terhadap musuhnya itu.

Dari kenyataan diatas, sering timbul pertanyaan menggelitik dalam diri saya. Mana yang lebih baik, kita temenan atau temenan lagi sama musuh atau justru musuhan atau musuhan lagi sama teman sendiri. Terus terang saya pernah mengalami keduanya dan menurut saya sama nggak enaknya alias sama pahitnya.

Pernah suatu ketika saya tertimpa suatu bencana, dimana saya harus mencari donor darah sebanyak-banyaknya untuk golongandarah yang cukup jarang didaerah saya. Hal yang pertama tentunya saya harus mencari diantara sanak famili. Namun karena tetap kurang saya harus pontang-panting mencarinya. Akhirnya saya dapat info kalau seseorang yang sudah saya anggap atau cap sebagai seteru, justru memiliki apa yang saya perlukan. Dengan sedikit bermuka tebal dan mengiba, saya akhirnya meminta bantuannya.

Lain juga kisahnya ketika saya harus berseteru dengan mantan kolega sekantor sekaligus teman bahkan sahabat baik saya. Saya dengan sangat terpaksa mendepaknya karena melakukan apa yang menurut company salah. Namun seseungguhnya dalam hati saya juga mendukung apa yang dia lakukan. Karena yang memecat bukan boss, tapi saya, ya jadilah kami berseteru sampai saat ini.

Kalau sudah demikian yang mana yang lebih baik? Jawaban saya lebih kepada tidak memilih salah satu diantara kedua situasi diatas. Namun demikian, suatu hal yang mustahil jika kita tidak menemukan situasi semacam itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Untuk itu lebih baik kita menyikapinya saja sebagai suatu hal yang wajar. Wajar dalam artian begini:

  1. Jika kita memang kita terpaksa memiliki musuh atau berada dalam posisi berseberangan, alangkah baiknya kita tidak terlalu ekstrim dalam artian terlalu men-doktrin pihak musuh. Misalnya dengan kata-kata seperti: akau nggak akan sudi melihat mukamu lagi, aku doakan kamu masuk neraka dan sebagainya. 
  2. Dan juga sebaliknya jikalau kita meiliki teman yang demikian dekat, begitu dekat bagai saudara, sebaiknya kita harus menempatkan diri kita pada situasi yang nyaman juga. Jangan sok soulmate-soulmate-an lah.

Jika kedua hal ini bisa kita jaga, maka kita akan memiliki pemikiran yang tidak terpolarisasi terlalu ekstrim. Jadi kita suatu saat tidak akan terjebak pada suatu persahabatan yang menyiksa maupun perseteruan yang abadi. Lagian, bukankah kita semua menginginkan suatu balancing atau keseimbangan dalam hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s